Rabu, 19 Desember 2012

PESERTA DIDIK

  1. PENGANTAR PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
    BAB 1 PENDAHULUAN
    A. LATAR BELAKANG
    Banyak dari pelajar masa kini hanya mementingkan apa yang menurut mereka yakini kebenaranya dan tidak mau mengikuti apa yang sebenarnya sudah digariskan atau yang telah menjadi aturan bagi setiap satuan pendidikan baik yang formal ataupun informal. Tapi meskipun demikian tugas dari seorang pendidik haruslah tetap dijalankan sebagaimana yang telah menjadi kewajibanya. Disini kami memandang perlu untuk mengangkat masalah perkembangan peserta didik yang meliputi sebagian besar yang terjadi pada peserta didik
    B. RUMUSAN MASALAH
    1. Pengertian perkembangan peserta didik
    2. Ruang lingkup pesrta didik
    3. Manfaat mempelajari peserta didik
    4. Factor – factor yang mempengaruhi peserta didik
    C. TUJUAN
    dalam makalah ini penulis bertujuan untuk memberikan sedikit pencerahan yang mungkin bisa dijadikan pedoman bagi pendidik di lingkungan manapun yang melakukan proses belajar mengajar agar dapat melihat lebih jelas apa masalah yang timbul dari peserta didik.
    BAB II
    RUMUSAN MASALAH
    PENGANTAR PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

    1. PENGERTIAN PESERTA DIDIK
    Dalam bahasa Indonesia, makna siswa, murid, pelajar dan peserta didik merupakan sinonim (persamaan), semuanya bermakna anak yang sedang berguru (belajar dan bersekolah), anak yang sedang memperoleh pendidikan dasar dari sutu lembaga pendidikan. Peserta didik adalah subjek utama dalam pendidikan. Dialah yang belajar setiap saat. Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.sedangkan dalam arti sempit anak didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik (Yusrina, 2006).
    Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagaimana yang dikutip oleh Murip Yahya (2008 : 113), dijelaskan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah “anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu”. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah individu manusia yang secara sadar berkeinginan untuk mengembangkan potensi dirinya (jasmani dan ruhani) melalui proses kegiatan belajar mengajar yang tersedia pada jenjang atau tingkat dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik dalam kegiatan pendidikan merupakan obyek utama (central object), yang kepadanya lah segala yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan dirujukkan.

    2. RUANG LINGKUP PESERTA DIDIK
    Soerjabrata (1974:6-13) mengemukakan ruang lingkup bidang kajian psikologi pendidikan dilihat dari segi situasI dan proses pendidikan dengan anak didik sebagai pusatnya yaitu kajian psikologi tentang siswa dalam situasi pendidikan dalam peninjauan statis dan dinamis serta kajia hal-hal lain yang erat kaitannya dengan situasi dan prose pendidikan di kelas Dalam peninjauan secara statis, kajian psikolog tentang siswa dalam situasi pendidikan mencakup kajia tentang gejala-gejala jiwa atau aktivitas dan tingkah laku yang umum yang terdapat pada manusia umumnya, yaitu perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, berfikir sikap, minat, motivasi, inteligensi, dan sebagainya dan kajian tentang perbedaan-perbedaan individual antar individu-siswa yang mencakup perbedaan dari segi kepribadian, inteligensi, bakat, minat, dan sebagainya. "Sedangkan dalam peninjauan secara dinamis, yaitu mencakup kajian psikologi tentang individu siswa dalam proses pendidikan, yakni perubahan tingkah laku dan cara¬ cara penilaiannya di dalam pendidikan yang mencakup:
    1. perubahan perilaku karena pertumbuhan dan perkembangan; atau karena peserta didik mengalami proses pematangan dan pendewasaan.
    2. perubahan perilaku karena belajar yang merupakan faktor terpenting dalam proses pendidikan dan pembelajaran.
    3. cara-cara mengukur atau mengevaluasi pencapaian karena perubahan-perubahan tersebut, khususnya karena belajar (La Sulo, 1990:16). Selain itu, ruang lingkup kajian psikologi pendidikan juga mencakup kajian-kajian tentang hal-hal lain yang erat kaitannya dengan situasi dan proses pendidikan, yaitu kajian p aentang bimbingan dan konseling, kajian psikologis terhadap individu yang mengalami penyimpangan psikis (jiwa), sosial, dan fisik, kajian tentang implikasi dari prinsip pendidikan 3 seumur hidup yang menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada sistem persekolahan tetapi pendidikan dapat dilakukan di luar sistem persekolahan, misalnya pendidikan untuk orang dewasa, dan kajian psikologis tentang bahan pengajaran yang seharusnya dipilih dan diorganisasikan sedemikian rupa agar dapat diserap oleh peserta didik. Interaksi psikologis dalam proses belajar mengajar antara peserta didik dengan guru sebagai pendidik dan pengajar di kelas.
    juga menjadi objek kajian dari psikologi pendidikan. Dengan kata lain, ruang lingkup kajian dari psikologi pendidikan ialah mencakup semua penerapan prinsip-prinsip psikologis dalam proses pendidikan dan pembelajaran peserta didik di kelas di berbagai institusi pendidikan, baik di lembaga pendidikan formal (di lingkungan sekolah), non formal (di lingkungan masyarakat), dan informal (di lingkungan keluarga). Dalam membahas tentang ruang lingkup dari psikologi pendidikan, juga dibahas tentang pusat perhatian dari psikologi pendidikan sebagai disiplin ilmu yang merupakan bagian integral dari psikologi umum. Suardiman (1988:6) mengemukakan bahwa ada tiga elemen yang menjadi pusat perhatian dalam pendidikan yang juga menjadi pusat perhatian oleh para ahli psikologi pendidikan dan para guru, yaitu anak didik, proses belajar, dan sekilas" belajar.
    Ketiga elemen ini saling berkaitan selalu sama lain. Peserta didik merupakan elemen yang terpentin diantara elemen yang lain (termasuk elemen situasi belaja dan elemen proses belajar). Ini bukan berarti bahwa faktor manusia (peserta didik) lebih penting dari faktor prose belajar dan situasi belajar, tetapi yang jelas tanpa hadirny faktor peserta didik tidak mungkin akan terjadi peristiwa belajar atau interaksi belajar mengajar dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal. Tanpa kehadiran peserta didik di kelas di suatu lembaga pendidikan tidak mungkin akan ada proses pembelajaran karena peserta didik merupakan objek dari proses pendidikan dan pembelajaran di kelas. Peserta didik diibaratkan seperti pembeli dalam suatu proses penjualan pasar yang akan membeli (menerima) ilmu pengetahua dari guru sebagai transformator pengetahuan (penjual kepada peserta didik yang berperan sebagai manusia yan belum dewasa untuk didewasakan.
    Proses pembelajaran sebagai elemen yang menjadi pusat perhatian dari psikologi pendidikan, merupakan elemen penentu keberhasilan proses pendidikan. Tanpa ada interaksi yang timbal balik antara guru sebagai pendidik, dan pengajar dengan peserta didik sebagai objek yang dididik dan diajar tidak mungkin akan terjadi proses ; pembelajaran di kelas atau di tempat belajar tertentu. Melalui proses pembelajaran yang interaktif antara guru dan peserta didik akan terjadi perubahan perilaku kepada peserta didik yang ditandai dengan gejala peserta didik menjadi tahu terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya dari tidak tahu pada waktu sebelum mempelajari materi pelajaran tertentu. Gejala lain dari terjadinya perubahan perilaku pada peserta didik, yaitu peserta didik memperoleh keterampilan tertentu seperti keterampilan dalam berbicara, berdiskusi, bergaul dan berteman, dan keterampilan lain yang membutuhkan aktivitas sensorik dan motorik dan perubahan dari aspek sikap (afektif), yaitu dari bersikap kurang baik atau kurang positif terhadap guru, orangtua, masyarakat, dan pihak terkait lainnya menjadi bersikap positif terhadap pihak-pihak tersebut sebagai buah atau hasil dari proses pendidikan yang berkualitas. Perubahan dari segi perilaku yang lain berupa perilaku peserta didik dari tidak disiplin dalam hidup menjadi disiplin (termasuk disiplin dalam melakukan aktivitas belajar), dari penampilan dalam berpakaian tidak rapi menjadi rapi dan bersih, dari beperilaku kurang santun menjadi sopan dan santun, dan berbagai aspek pengetahuan (kognitif), afektif (sikap), dan keterampilan (psikomotorik) sebagai buah dari hasil proses pendidikan dan pembelajaran di setting (tempat) belajar. Slameto (1988:68) menyatakan bahwa agar proses pembelajaran di kelas dapat maksimal dan optimal, maka hubungan antara guru dengan peserta didik dan hubungan peserta didik dengan sesama peserta didik yang lain harus timbal balik dan komunikatif satu sama lainnya.
    Proses pembelajaran hanya dapat terjadi jika antara guru dengan siswa terjadi komunikasi dan interaksi timbal balik yang edukatif. Jadi proses pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh hubungan yang ada dalam proses pembelajaran itu sendiri.
    Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasi siswa dengan gurunya.
    Hubungan guru dengan siswa sebagai peserta didik yang tercipta dengan baik, maka siswa akan senang kepada gurunya dan juga akan menyukai materi pelajaran yang diajarkan oleh gurunya sehingga siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan baik. Sebaliknya, jika hubung guru dengan siswa kurang komunikatif dan harmonis, siswa akan membenci atau tidak senang kepada gurun dan menyebabkan siswa tidak senang menerima pelajar dari guru tersebut, akibatnya siswa tidak sukses bela dalam mata pelajaran tersebut. Guru yang kurang komunikatif dan edukatif dalam berinteraksi dengan siswanya, akan menyebabkan proses pembelajaran di kelas berjalan tidak optimal dan maksim Selain itu, siswa akan menjauhkan diri dari guru sehing siswa tersebut tidak dapat aktif dalam mengikuti pro; belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu, para calon guru dan para guru yang telah mengajar harus menguasai pengetahuan tentang didaktik dan metodik pembelajara, misalnya menguasai dan menerapkan pengetahuan tentang dinamika kegiatan dalam strategi belajar mengajar, interal dan motivasi belajar mengajar, dan berbagai pendekat, dalam proses belajar mengajar.
    Situasi belajar juga merupakan elemen penting yang berkontribusi positif terhadap terciptanya proses pembelajaran. Situasi belajar menunjuk kepada lingkung dimana proses belajar itu terjadi. ruang kelas, ruang perpustakaan, dan ruang laboratorium merupakan lingkung belajar yang sangat mempengaruhi situasi belajar di tempat belajar tersebut. Kondisi lingkungan di ruang kelas, di ruang perpustakaan, dan di ruang laboratorium sangat mempengaruhi kesuksesan belajar bagi peserta didik dan kesuksesan mengajar bagi guru. Ruang kelas, perpustakaan, dan ruang laboratorium yang memiliki fasilitas belajar yang memadai, kondisinya tenang,sirkulasi udara yang lancar, dan cukup luas untuk menampung jumlah siswa yang ideal, la merupakan situasi belajar menyenangkan yang dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar peserta dalam belajar dan minat dan motivasi mengajar bagi guru. Situasi belajar menunjuk kepada suatu faktor atau kondisi yang mempengaruhi siswa atau proses belajar. Guru merupakan satu faktor dalam situasi belajar di samping situasi udara, penerangan, komposi tempat duduk, dan sebagainya (Suardiman, 1988:7). Sikap guru, semangat kelas, sikap masyarakat, dan suasana perasaan di sekolah juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar di tempat belajar yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat menjadi guru yangprofesional dalam mendidik dan mengajar peserta didik melalui proses ruang pembelajaran di kelas, maka selain harus memperhatikan ketiga elemen pokok yang menjadi pusat perhatian dari psikologi pendidikan tersebut di atas, juga harus memperhatikan dan menguasai pengetahuan tentang didaktik metodik pengajaran dan hall lain yang terkait dengan masalah peserta didik.
    Pengetahuan didaktik metodik pengajaran dan hal lain yang terkait dengan masalah peserta didik, misalnya pengetahuan tentang gejala aktivitas umum jiwa peserta didik, kepribadian, inteligensi, dan bakat peserta didik, perkembangan anak dan perkembangan remaja sebagai subjek didik, belajar dan permasalahannya, teori¬teori belajar, interaksi belajar mengajar di kelas dan permasalahannya, keterkaitan perilaku guru terhadap dinamika kelas, pembinaan disiplin di dalam kelas, motivasi belajar dan permasalahannya, strategi belajar mengajar manajemen kelas untuk interaksi belajar mengajar, dan masalah-masalah khusus dalam pendidikan dan pengajaran.

    3. MANFAAT MEMPELAJARI PESERTA DIDIK
    Bagi seorang guru, yang tugas utamanya adalah mengajar, sangat penting memahami psikologi belajar. kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran pendidikan agama Islam, sarat dengan muatan psikologis. mengabaikan aspek – aspek psikologis dalam proses pembelajaran akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah :
    1. memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain
    2. memahami prinsip – prinsip dan teori pembelaaran
    3. memilih memetode – metode pembelajaran dan pengajaran
    4. meetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
    5. menciptaka situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
    6. memilih dan menetapkan isi pengajaran
    7. membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
    8. memilih alat Bantu pembelajaran dan pengajaran
    9. menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
    10.memahami dan mengembangkan kepribadian dsan profesi guru
    11.membimbing perkembangan siswa
    Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki keterkaitan. Sehubungan dengan ini, setiap guru sekolah selayaknya memahami seluruh proses dan perkembangan manusia, khususnya siswa. Pengetahuan mengenai proses dan perkembangan dan segala aspeknya itu sangat bermanfaat, antara lain :
    guru dapat memberikan layanan dan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswa dengan pendekatan yang relefan denga tingakat perkembangannya
    guru dapat mengantisipasi kemungkinan – kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu guru dapat memertimbangkan waktu yang tepat dlam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu
    guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan – tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya Bisa lebih mengarahkan anak didiknya terutama untuk perkembangan prestasi belajar dan mengembangkan bakat yang sejalan dengan minat anak bersangkutan.

    4. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PESERTA DIDIK
    Perkembangan peserta didik sangat dipengaruhi oleh lingkungan, llingkungan sendri sering diartikan sebagai situasi di sekitar kita, segala sesuatu di alam semesta ini yan berada di luar diri anak. Antara lingkungan dan manusia ada pengaruh timbal balik, artinya lingkungan mempengaruhi manusia, dan sebaliknya, manusia juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Lingkungan tempat anak mendapat pendidikan disebut lingkungan pendidikan. Ki Hajar Dewantara membedakan lingkungan pendidikan menjadi 3, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat, yang dkenal sebagai Tri Pusat Pendidikan.
    Keluarga dikataan sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan paling utama, dimana anak untuk pertama kalinya mendapatkan pelajaran-pelajaran dari orang tuanya. Keluarga merupakan pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak, selain itu sebagian besar waktu anak lazimnya dihabiskan di lingkungan keluarga. Besarnya peluang dan kesempatan interaksi ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Hubungan orangtua dengan anak juga berbeda dari hubungan anak dengan pihak yang lainnya, seperti guru, teman ataupun masyarakat sekitar.
    Selain kebutuhan materi, kebutuhan spiritual juga sangat diperlukan oleh anak terhadap orang tuanya. Orang tua menanamkan berbagai pelajaran dengan nasihat-nasihat yang mereka berikan kepada anak-anak mereka. Lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh yang sangat dominan dan sifatnya langsung terhadap pembentukan perilaku, sikap, dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku sejenisnya.
    Selain keluarga, sekolah juga tak kalah penting dalam perkembangan anak. Sejak lama, sekolah telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Selama kurang lebih lima sampai enam jam pada hampir setiap hari, umumnya anak-anak berada di sekolah. Keterbatasan keluarga dalam menyediakan faslitas untuk belajar dan pengetahuan orang tua akan ilmu-ilmu yang harus dipelajari anak merupakan faktor yang mempengaruhi petingnya peran sekolah bagi anak. Di sekolah anak diajari berbagai ilmu pendidikan dan berbagi pengetahuan serta ketrampilan-keramilan, keberadaan anak di sekolah mempengaruhi perilaku anak. Struktur dan iklim kelas juga merupakan salah satu unsur pokok yang akan turut mewarnai perilaku anak. Guru yang berperan sangat dominan dalam merancang, mengatur, dan mengisi aktivitas kelas. Sedangkan anak lebih cenderung mengikuti apa yang dikehendaki atau ditugaskan oleh guru. Pola kegiatan seperti itu diprediksikan akan sangat membosankan dan menyiksa anak-anak, karena kegiatan mereka lebih terbatas pada memperhatikan dan mencatat pembicaraan dan tulisan guru.
    Karena sekolah itu sengaja disediakan atau dibangun khusus untuk tempat pendidikan, maka tak heran jika kita golongkan sekolah sebagai tempat atau lembaga pendidikan kedua sesudah keluarga, lebih-lebih mempunyai fungsi melanjutkan pendidikan kelurga dengan guru sebagai ganti orang yang harus ditaati.
    Lingkungan penddikan ketiga yaitu masyarakat, selain di rumah dan di sekolah, anak juga bergaul dengan masyarakat sekitar. Masyarakat yang baik biasanya memunculkan sikap yang baik pula bagi anak. Sikap anak biasanya cenderung sama dengan teman-teman bermainnya. Ia akan melakukan apa yang teman-temannya biasa lakukan.
    Masyarakat merupakan tempat anak-anak hidup dan bergaul dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya memiliki peranan dan pengaruh tertentu dalam pembentukkan kepribadian dan perilaku anak. Pengalaman-pengalaman interaksional anak pada masyarakat ini akan memberi kontribusi tersendiri dalam pembentukkan perilaku dan perkembangan pribadi anak.
    Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Para ahli yang beraliran “Nativisme” berpendapat bahwa perkembangan anak semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung pada faktor dasar/pembawaan. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Schopenhauer.
    Lain halnya dengan para ahli yang mengikuti aliran “Empirisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan, sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Aliran Empirisme ini menjadikan faktor lingkungan/pendidikan maha kuasa dalam menentukan perkembangan seorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke.
    Sedangkan aliran yang tampak menengahi kedua pendapat aliran yang ekstrem di atas adalah “aliran konvergensi” dengan tokohnya yang terkenal adalah William Stern. Menurut aliran konvergensi, perkembangan individu itu sebenarnya ditentukan oleh kedua kekuatan tersebut. Jadi baik bawaan maupun lingkungan sama-sama punya pengaruh yang kuat.
    Selain faktor-faktor yang tersebut di atas, masih ada lagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak didik, diantaranya adalah faktor teman sebaya, keragaman budaya dan faktor media massa. Teman sebaya biasanya mempengaruhi kepribadian anak, jika ia berteman dengan teman yang baik sikapnya akan cenderung ikut baik, begitu pula sebaliknya.
    Dalam perkembangan anak keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mental dan moral mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembang di masyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah prilaku yang negatif.
    Selain itu, media massa merupakan faktor lingkungan yang dapat merubah atau mempengaruhi prilaku masyarakat melalui proses-proses. Media massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media massa, seorang anak dapat mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang ke arah positif dan negatif.
    Contoh media massa yang sangat berpengaruh adalah media massamassa saat ini berkembang semakin canggih. Semakin canggih suatu media massa maka akan semakin terasa dampaknya bagi kehidupan kita. elektronik antara lain televisi. Televisi sangat mudah mempengaruhi masyarakat, khususnya anak-anak yang dalam perkembangan melalui acara yang disiarkannya.
    BAB III
    PENUTUP
    KESIMPULAN

    1. PENEGERTIAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
    peserta didik adalah individu manusia yang secara sadar berkeinginan untuk mengembangkan potensi dirinya (jasmani dan ruhani) melalui proses kegiatan belajar mengajar yang tersedia pada jenjang atau tingkat dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik dalam kegiatan pendidikan merupakan obyek utama (central object), yang kepadanya lah segala yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan dirujukkan.

    RUANG LINGKUP PESERTA DIDIKS
    ruang lingkup kajian dari psikologi pendidikan ialah mencakup semua penerapan prinsip-prinsip psikologis dalam proses pendidikan dan pembelajaran peserta didik di kelas di berbagai institusi pendidikan, baik di lembaga pendidikan formal (di lingkungan sekolah), non formal (di lingkungan masyarakat), dan informal (di lingkungan keluarga). Dalam membahas tentang ruang lingkup dari psikologi pendidikan, juga dibahas tentang pusat perhatian dari psikologi pendidikan sebagai disiplin ilmu yang merupakan bagian integral dari psikologi umum.

    MANFAAT MEMPELAJARI PESERTA DIDIK
    Bagi seorang guru, yang tugas utamanya adalah mengajar, sangat penting memahami psikologi belajar. kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran pendidikan agama Islam, sarat dengan muatan psikologis. mengabaikan aspek – aspek psikologis dalam proses pembelajaran akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai.

    FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PESERTA DIDIK
    Perkembangan peserta didik sangat dipengaruhi oleh lingkungan, llingkungan sendri sering diartikan sebagai situasi di sekitar kita, segala sesuatu di alam semesta ini yan berada di luar diri anak. Antara lingkungan dan manusia ada pengaruh timbal balik, artinya lingkungan mempengaruhi manusia, dan sebaliknya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar